Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik mengalami pergeseran yang signifikan. Wajah aktivisme yang dahulu identik dengan diskusi, advokasi, dan gerakan kolektif, kini perlahan tergantikan oleh para influencer yang mendominasi linimasa media sosial. Isu-isu publik tidak lagi hanya diperjuangkan melalui forum diskusi atau aksi lapangan, tetapi juga lewat konten singkat, visual menarik, dan narasi yang mudah viral.
Influencer memang memiliki kekuatan besar dalam menjangkau massa. Dengan jumlah pengikut yang banyak, mereka mampu menyebarkan isu sosial, politik, dan kemanusiaan dengan cepat. Namun persoalannya bukan pada pengaruh itu sendiri, melainkan pada kedalaman pesan dan konsistensi perjuangan. Aktivisme yang seharusnya berbasis nilai, analisis, dan keberpihakan pada kelompok rentan, sering kali tereduksi menjadi sekadar tren dan komoditas konten.
Tidak sedikit influencer yang mengangkat isu publik hanya ketika isu tersebut sedang ramai diperbincangkan. Setelah sorotan meredup, perhatian pun berpindah ke topik lain yang lebih menjanjikan engagement. Di sinilah perbedaan mendasar antara aktivis dan influencer terlihat jelas. Aktivis bekerja dalam senyap, berproses panjang, dan tetap konsisten meski tanpa sorotan kamera. Sementara influencer cenderung bergerak mengikuti algoritma dan selera pasar.
Pergantian wajah ini berpotensi menimbulkan risiko serius bagi kualitas demokrasi dan gerakan sosial. Ketika isu-isu penting dipersonalisasi dan dipusatkan pada figur populer, substansi perjuangan bisa kabur. Kritik struktural berubah menjadi opini personal, dan gerakan kolektif tereduksi menjadi citra individu. Aktivisme pun kehilangan daya tekan terhadap kebijakan dan kekuasaan.
Namun, realitas ini tidak seharusnya dipandang secara hitam-putih. Influencer sejatinya dapat menjadi sekutu gerakan sosial jika memiliki kesadaran, integritas, dan komitmen jangka panjang. Media sosial hanyalah alat; yang menentukan adalah nilai dan tujuan di balik penggunaannya. Tantangannya adalah bagaimana aktivis mampu beradaptasi dengan lanskap digital tanpa kehilangan ruh perjuangan.
Pada akhirnya, wajah aktivisme tidak boleh berhenti pada siapa yang paling terkenal, melainkan pada siapa yang paling konsisten memperjuangkan perubahan. Di tengah riuhnya influencer dan algoritma, aktivisme harus tetap berpijak pada keberanian bersuara, keberpihakan pada yang tertindas, dan komitmen untuk mengawal keadilan—baik di jalanan maupun di ruang digital.


Leave a Comment