Ambisi Perempuan Bukan Ancaman

OPINI, PMIIUNISMA – ​Dalam konstruksi sosial kita, sering kali ada standar tak tertulis tentang bagaimana seharusnya perempuan bersikap dalam sebuah hubungan. Perempuan diharapkan menjadi pendamping yang manis, yang tahu kapan harus “mundur” sedikit agar pasangannya tetap merasa dominan. Namun, apa yang terjadi ketika seorang perempuan justru tumbuh melampaui ekspektasi tersebut? Apa yang terjadi ketika prestasinya, ambisinya, dan kemampuannya justru menjadi ancaman bagi kenyamanan sang pria?

​Di sinilah kita sering bertemu dengan satu masalah klasik: Insekyuritas pria yang diproyeksikan kepada perempuan.

​Ambisi Bukanlah Ancaman

​Banyak perempuan terjebak dalam dilema yang menyakitkan: antara menjadi diri sendiri yang berdaya, atau memangkas diri (menjadi lebih kecil) demi menjaga ego pasangan. Kita sering mendengar kalimat-kalimat seperti, “Kamu terlalu sibuk,” atau “Kenapa harus kamu yang maju?” padahal, jika itu dilakukan oleh laki-laki, hal tersebut dianggap sebagai bentuk perjuangan untuk masa depan.


​Ketika perempuan memiliki kelebihan baik itu di bidang akademik, organisasi, maupun karier kelebihan itu seharusnya menjadi kebanggaan bagi pasangannya. Namun, bagi pria dengan rasa percaya diri yang rapuh, kelebihan perempuan adalah sebuah “cahaya” yang menyilaukan. Cahaya itu menyoroti kekurangan mereka sendiri, membuat mereka merasa kecil, dan akhirnya, mereka lebih memilih untuk meredupkan cahaya pasangannya daripada berupaya meningkatkan kualitas diri sendiri.

​Cinta Tidak Meminta Kita untuk Menunduk


​Cinta yang sehat seharusnya menjadi ruang untuk saling tumbuh, bukan ruang untuk saling membatasi. Jika keberhasilanmu membuat pasanganmu merasa terancam, maka masalahnya bukan terletak pada seberapa besar cahayamu, melainkan pada ketidaksiapan mental pasanganmu dalam melihat sosok perempuan yang mandiri.
​Sebagai kader KOPRI, kita perlu memahami satu hal fundamental: Menjadi perempuan yang bersinar adalah hak. Kita tidak bertanggung jawab untuk meredupkan potensi diri hanya karena orang lain tidak sanggup menatap cahayanya. Kita tidak perlu meminta maaf atas kecerdasan, jabatan, atau pencapaian yang kita raih.

Mengapa Harus Memilih?

​Mengapa perempuan harus memilih antara “memiliki karier/prestasi” atau “dicintai”? Paradoks ini seharusnya kita lawan. Hubungan yang ideal adalah ketika dua orang berdiri berdampingan sebagai mitra, bukan sebagai kompetitor yang harus saling menjatuhkan.

​Jika pria merasa “silau” dengan potensimu, tugasmu bukanlah mematikan lampu terang di kepalamu agar dia merasa nyaman. Tugasmu adalah terus bersinar. Jika dia tidak bisa beradaptasi atau justru berusaha memadamkanmu, mungkin dia bukanlah orang yang tepat untuk berjalan di sampingmu.

​Kepada rekan-rekan KOPRI, tetaplah berkembang. Teruslah menjadi versi terbaik dirimu. Jika cahayamu membuat seseorang merasa tidak aman, itu adalah sinyal bagi mereka untuk bertumbuh, bukan tanda bagimu untuk berhenti. Karena pada akhirnya, pria yang hebat tidak akan pernah merasa terancam oleh perempuan yang luar biasa; justru, dia akan menjadi pendukung nomor satu di garda terdepan.

​Ingat: Cahayamu adalah milikmu, jangan biarkan siapa pun meredupkannya hanya demi kenyamanan ego mereka. (*)

*) Penulis: Sahabati Salsa.

More Reading

Post navigation

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *