Bencana alam yang kembali melanda wilayah Sumatera menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah negeri yang rawan bencana, namun juga sering kali belum sepenuhnya siap dalam menghadapinya. Banjir, longsor, gempa bumi, hingga kebakaran hutan dan lahan bukan hanya peristiwa alam semata, tetapi juga cermin dari hubungan manusia dengan lingkungannya.
Di banyak daerah di Sumatera, bencana diperparah oleh kerusakan lingkungan yang terjadi secara masif. Alih fungsi lahan, pembalakan hutan, serta tata ruang yang tidak berkelanjutan membuat daya dukung alam semakin lemah. Ketika hujan deras turun atau musim kemarau memanjang, masyarakat kecil menjadi pihak paling rentan yang harus menanggung dampaknya.
Bencana juga menguji kehadiran negara. Penanganan darurat, distribusi bantuan, dan pemulihan pascabencana harus dilakukan secara cepat, adil, dan tepat sasaran. Negara tidak boleh abai terhadap keselamatan warganya, terutama mereka yang tinggal di wilayah rawan bencana dan memiliki keterbatasan ekonomi.
Lebih dari itu, bencana di Sumatera seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi dan edukasi kebencanaan. Peringatan dini, penguatan infrastruktur, serta pelibatan masyarakat lokal dalam menjaga lingkungan adalah langkah penting yang tidak bisa ditunda. Pencegahan selalu lebih murah dan lebih manusiawi dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi.
Pada akhirnya, bencana bukan hanya soal alam yang murka, tetapi juga tentang pilihan kebijakan dan perilaku manusia. Sumatera membutuhkan komitmen bersama—antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat—untuk membangun wilayah yang lebih aman, berkelanjutan, dan berkeadilan. Karena setiap bencana sejatinya menyimpan pelajaran, agar ke depan korban tidak terus berjatuhan.



Leave a Comment