Perbedaan generasi bukanlah hal baru, tetapi kesenjangan antargenerasi saat ini terasa semakin tajam. Perubahan teknologi, pola kerja, hingga cara berkomunikasi yang berlangsung begitu cepat membuat generasi muda dan generasi sebelumnya sering kali berjalan dengan cara pandang yang berbeda. Jika tidak dikelola dengan baik, kesenjangan ini dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang serius.
Generasi muda tumbuh dalam era digital yang serba instan dan terbuka. Mereka akrab dengan teknologi, memiliki akses luas terhadap informasi, serta cenderung lebih kritis terhadap otoritas dan sistem lama. Sementara itu, generasi sebelumnya dibentuk oleh pengalaman hidup yang menekankan stabilitas, hierarki, dan proses yang bertahap. Perbedaan latar belakang inilah yang kerap memicu miskomunikasi, saling curiga, bahkan konflik nilai.
Dalam dunia kerja, kesenjangan generasi terlihat jelas. Banyak anak muda menghadapi realitas sulit: lapangan kerja terbatas, upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup, serta tuntutan keterampilan yang terus berubah. Di sisi lain, mereka sering dicap tidak loyal, kurang tahan banting, atau terlalu idealis. Labelisasi semacam ini mengabaikan fakta bahwa generasi muda hidup dalam struktur sosial dan ekonomi yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.
Kesenjangan ini juga tercermin dalam ruang sosial dan politik. Partisipasi generasi muda kerap dianggap sebatas aktivitas media sosial, sementara pengalaman dan kebijaksanaan generasi senior merasa tidak lagi dihargai. Padahal, tantangan sosial hari ini—mulai dari ketimpangan ekonomi, krisis iklim, hingga disrupsi teknologi—membutuhkan kolaborasi lintas generasi, bukan pertentangan.
Pemerintah, dunia pendidikan, dan institusi sosial memiliki peran penting dalam menjembatani jurang ini. Kebijakan yang berpihak pada pengembangan keterampilan, perlindungan kerja, serta ruang dialog antargenerasi harus diperkuat. Di saat yang sama, setiap generasi perlu membuka diri untuk saling belajar: yang muda belajar dari pengalaman, yang tua belajar beradaptasi dengan perubahan.
Pada akhirnya, kesenjangan generasi bukanlah masalah usia, melainkan masalah pemahaman. Tantangan sosial tidak akan selesai jika setiap generasi berjalan sendiri-sendiri. Masa depan yang inklusif hanya bisa dibangun ketika perbedaan dijadikan kekuatan, bukan sumber perpecahan.


Leave a Comment