PMIIUNISMA – Di sebuah desa yang masih memegang kuat nilai-nilai patriarki, Bunga (23) bukan nama sebenarnya, berjuang mempertahankan mimpinya untuk meraih pendidikan tinggi. Di tengah pandangan masyarakat yang masih menganggap perempuan cukup berada di ranah domestik, ia memilih melawan stigma demi masa depan yang lebih baik.
Bunga mengaku sering menghadapi komentar merendahkan hanya karena memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Di lingkungannya, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa perempuan seharusnya fokus mengurus rumah tangga, bukan mengejar pendidikan tinggi.
“Banyak orang mengatakan bahwa tempat perempuan hanya di dapur dan mengurus rumah. Mereka berpikir perempuan tidak perlu sekolah tinggi,” ujarnya saat diwawancarai.
Pandangan tersebut tidak jarang berubah menjadi hinaan yang membuatnya harus berjuang secara mental. Ia mengaku kerap dipandang rendah oleh sebagian masyarakat hanya karena memiliki mimpi yang berbeda dari kebiasaan yang ada di lingkungannya.
“Kadang saya dianggap tidak pantas memiliki cita-cita. Padahal saya hanya ingin belajar dan memperbaiki masa depan,” katanya.
Menurutnya, tekanan sosial semacam itu sering kali tidak disadari dampaknya oleh masyarakat. Perempuan yang ingin menempuh pendidikan tinggi kerap harus menghadapi rasa ragu, bahkan tekanan psikologis karena terus-menerus diremehkan.
Namun bagi dirinya, pendidikan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh gelar akademik. Ia melihat pendidikan sebagai jalan untuk memperluas wawasan, membangun kemandirian, serta memperbaiki kualitas hidup.
“Pendidikan bukan hanya soal gelar. Pendidikan membantu saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bijak dalam menghadapi kehidupan,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa perempuan berpendidikan tidak berarti meninggalkan perannya dalam keluarga. Justru sebaliknya, pendidikan dapat membantu perempuan menjadi lebih mampu mendidik generasi berikutnya.
“Perempuan yang berpendidikan bisa menjadi ibu yang lebih bijak dan mampu membimbing anak-anaknya dengan lebih baik,” katanya.
Melalui perjuangan yang ia jalani, perempuan tersebut berharap pandangan masyarakat perlahan dapat berubah. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama untuk belajar dan berkembang.
“Dengan usaha dan kesabaran, saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga mampu meraih mimpi dan memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan masa depan bangsa,” ujarnya.
Perjuangan perempuan desa seperti dia menjadi potret nyata bahwa akses pendidikan masih menjadi tantangan bagi sebagian perempuan di wilayah pedesaan. Namun di balik tantangan itu, muncul tekad kuat untuk membuktikan bahwa mimpi tidak seharusnya dibatasi oleh stigma sosial. (Red)
*) Nama Bunga bukan nama sebenarnya. Redaksi menggunakan nama samaran untuk menjaga privasi dan keamanan narasumber. Diketahui narasumber merupakan kader PMII Rayon Rona Gallusia.



Leave a Comment