• Headline
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tentang
PMII Unisma
Advertisement
  • Home
  • Berita
  • Cerpen
  • Essay
  • Opini
  • Puisi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Cerpen
  • Essay
  • Opini
  • Puisi
No Result
View All Result
PMII Unisma
No Result
View All Result
Home Opini

Board of Peace: Ketika Perdamaian Dibeli dan Anak-Anak Dibiarkan Mati

pmii by pmii
June 16, 2026
in Opini
0
Board of Peace: Ketika Perdamaian Dibeli dan Anak-Anak Dibiarkan Mati
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

PMIIUNISMA – Negara kembali berbicara tentang perdamaian dunia. Melalui keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace, pemerintah menempatkan diri sebagai bagian dari upaya global menjaga stabilitas dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, pertanyaan mendasarnya bukan semata apakah perdamaian itu penting, melainkan prioritas apa yang sedang dipilih negara, serta siapa yang harus membayar harganya. Ketika muncul isu adanya iuran atau pembiayaan dari anggaran negara untuk partisipasi tersebut, publik berhak bertanya: di tengah keterbatasan sumber daya, apakah negara sedang menempatkan simbol perdamaian di atas kebutuhan paling mendasar warganya sendiri?

Ironi itu terasa semakin tajam ketika, pada waktu yang hampir bersamaan, publik dihadapkan pada tragedi seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya dengan pemicu yang begitu sederhana sekaligus memilukan: buku dan pena. Tragedi semacam ini kerap direduksi sebagai persoalan individual, psikologis, atau urusan keluarga semata. Padahal, memandangnya secara personal justru menutup mata dari akar persoalan yang lebih dalam, yakni ketiadaan sistem perlindungan anak yang memadai, tekanan struktural dalam dunia pendidikan, serta absennya negara dalam mendeteksi dan mencegah kerentanan sejak dini. Anak-anak tidak tiba-tiba sampai pada titik putus asa; selalu ada rangkaian kegagalan sosial yang mendahuluinya.

Di sinilah relevansi antara isu global dan tragedi domestik tersebut bertemu. Bukan karena Board of Peace secara langsung menyebabkan kematian seorang anak, melainkan karena keduanya mencerminkan pilihan politik dan arah kebijakan negara. Negara mampu hadir di forum internasional, merumuskan jargon perdamaian, serta mengalokasikan anggaran demi legitimasi global. Namun, pada saat yang sama, negara gagap memastikan bahwa ruang kelas aman secara psikologis, serta gagal menjamin bahwa anak-anak tidak dihancurkan oleh beban yang seharusnya dapat dicegah melalui sistem pendidikan dan sosial yang lebih manusiawi.

Perdamaian, dalam makna paling dasar, seharusnya dimulai dari dalam negeri. Perdamaian bukan hanya soal diplomasi, meja perundingan, atau keanggotaan dalam dewan global, melainkan tentang jaminan hidup yang layak, aman, dan bermartabat bagi warga paling rentan. Ketika anak-anak masih dapat mati akibat tekanan yang banal namun mematikan, maka ada yang keliru dalam cara negara mendefinisikan sekaligus mempraktikkan perdamaian itu sendiri.

Sebagai mahasiswa administrasi publik, kritik ini bukanlah penolakan terhadap gagasan perdamaian dunia, melainkan gugatan atas prioritas kebijakan negara. Perdamaian yang dibangun dengan mengabaikan luka domestik adalah perdamaian semu. Negara tidak dapat mengklaim kemanusiaan global sambil gagal menjamin perlindungan dasar bagi warganya sendiri. Negara pun tidak bisa mencuci tangan dari kegagalan sistemik yang lahir dari pilihan kebijakan yang diambilnya. (*)

*) Penulis: Sahabati Risma Nurijah

Tags: boardofpeaceOpinipmiikomunispmiiunisma
Previous Post

Memasuki Abad Kedua: Apakah NU Mengalami “Krisis Identitas Quarter-Life” di Hadapan Gen Z?

Next Post

Seragam Cokelat Membunuh Lagi?

pmii

pmii

Next Post

Seragam Cokelat Membunuh Lagi?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers

Recent News

Fast Culture, Simulakra, dan Degradasi Kesadaran Manusia Modern

Fast Culture, Simulakra, dan Degradasi Kesadaran Manusia Modern

June 24, 2026
Pak Presiden, ini Arahnya Kemana?

Pak Presiden, ini Arahnya Kemana?

June 16, 2026
PARCOK, KEKUASAAN, DAN DEMOKRASI

PARCOK, KEKUASAAN, DAN DEMOKRASI

June 10, 2026
Kopri PMII Unisma Gelar Sekolah Kader Putri, Cetak Pemimpin Perempuan Hadapi Tantangan Zaman

Kopri PMII Unisma Gelar Sekolah Kader Putri, Cetak Pemimpin Perempuan Hadapi Tantangan Zaman

June 8, 2026
PMII Unisma

Website Resmi PK PMII Unisma

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Cerpen
  • Essay
  • Opini
  • Puisi

© 2026 https://pmiiunisma.or.id - Dikir, Fikir, dan Amal Sholeh