PMIIUNISMA, Film Sang Penari menjadi pintu masuk untuk membahas persoalan perempuan, tubuh, tradisi, dan relasi kuasa dalam diskusi di Rendezvous Kalimetro, Kota Malang, Jumat (25/9/2026).
Dua kader perempuan PMII dan HMI mengajak peserta melihat kisah Srintil secara lebih kritis, bukan sekadar sebagai cerita percintaan.
Diskusi tersebut menghadirkan Risma Nurijah dari Kopri Komisariat UNISMA dan Sri Wahyuningsih dari Kohati Komisariat Al-Tsawrah UNISMA.
Keduanya membedah perjalanan Srintil dalam film yang diadaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Pembahasan diarahkan pada bagaimana perempuan berhadapan dengan konstruksi sosial, budaya, dan norma di lingkungannya.
Risma mengatakan kisah Srintil dan Rasus tidak dapat dipahami hanya dari hubungan asmara keduanya. Menurut dia, film tersebut juga memperlihatkan persinggungan antara cinta, politik, budaya, dan tradisi.
“Film ini sangat kompleks, jauh lebih kompleks dari percintaan saja. Melainkan ada tentang politik, budaya, tradisi yang mengemas cinta mereka berdua,” kata Risma.

Ia menyoroti latar sosial Dukuh Paruk yang digambarkan masih tertinggal pada masa pascakemerdekaan. Kondisi tersebut, menurut Risma, turut membentuk cara masyarakat memandang perempuan dan pilihan hidup Srintil.
Sementara itu, Sri menyoroti bagaimana norma sosial dapat berpengaruh terhadap cara perempuan memandang dirinya sendiri. Ia mengaitkannya dengan fenomena masa kini, ketika penilaian terhadap perempuan kerap muncul melalui komentar di ruang digital.
“Norma itu sendiri membiarkan pendapat dan kesadaran daripada perempuan itu sendiri,” ujar Sri.
Menurut dia, komentar mengenai bentuk tubuh perempuan di kolom komentar media sosial menunjukkan bagaimana standar terhadap perempuan masih terus diproduksi oleh lingkungan sosial.
“Ini sangat jauh sekali dari kata nilai dan norma itu sendiri,” jelas dia.
Kegiatan nonton bareng dan diskusi ini menjadi ruang bagi peserta untuk membicarakan perempuan, tradisi, relasi sosial, serta pilihan hidup dari sudut pandang yang lebih kritis.
Selain diskusi film, bazar buku di lokasi tersebut berlangsung sejak 17 September hingga 31 Oktober 2026. (*)
*) Pewarta: LPK Unisma
