OPINI, PMIIUNISMA | Ketika mendengar nama Nusa Tenggara Timur (NTT), mungkin yang terbayang adalah laut yang indah, pulau-pulau yang estetik, dan kekayaan alam yang begitu beragam.
Namun, di balik semua itu, pada 20 Agustus 2026, keindahan dan keceriaan di Nusa Tenggara Timur berubah menjadi duka.
Tangisan anak kecil yang berteriak meminta tolong, ibu yang berlari sambil menggendong anaknya, dan semua orang yang berusaha menyelamatkan diri dari bencana. Dahsyatnya bumi yang bergetar dan kencangnya angin yang tak terlihat pada saat itu membuat bangunan-bangunan tinggi hilang dalam sekejap.
Bencana yang terjadi di NTT mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya tentang pembangunan gedung-gedung tinggi dan pertumbuhan ekonomi. Di balik itu semua, masih ada masyarakat yang harus berjuang menghadapi bencana, kehilangan tempat tinggal, kehilangan sumber penghasilan, bahkan kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi kita bukanlah hal sepele yang mudah dilupakan. Mungkin sebagian dari mereka ingin marah dan merasa kecewa, tetapi mereka sadar bahwa ini adalah musibah yang harus diterima. Mereka yakin bahwa musibah yang Allah berikan adalah sebuah ujian yang mengingatkan kita untuk sadar dan bersabar.
Menurut saya, bencana ini tidak hanya menjadi berita selama beberapa hari. Ketika air mulai surut dan kamera media mulai pergi, belum tentu masyarakat yang terdampak sudah kembali hidup normal. Mereka harus kembali berjuang menata apa yang telah hilang, membersihkan rumah yang dipenuhi debu, mencari penghasilan, dan melawan trauma yang begitu dalam.
NTT merupakan salah satu wilayah yang memiliki kondisi geografis dan iklim yang membuat masyarakat rentan terhadap berbagai bencana. Oleh karena itu, penanganan bencana tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. Pemerintah perlu memperkuat mitigasi bencana, sistem peringatan dini, infrastruktur, serta edukasi kepada masyarakat agar mereka lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.
Namun, tanggung jawab bukan hanya berada di tangan pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan kesiapsiagaan. Solidaritas dari masyarakat di daerah lain pun sangat berarti. Bantuan sekecil apa pun dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang kehilangan.
Bagi saya, bencana di NTT bukan sekadar persoalan alam, tetapi juga tentang bagaimana kita menjadi manusia yang berkemanusiaan. Kita tidak boleh membiarkan penderitaan mereka hanya menjadi angka dalam laporan dan berita yang kemudian terlupakan.
Sebab, ketika bencana datang, yang dibutuhkan mereka bukan hanya rasa belas kasih dan bantuan untuk bertahan hidup hari ini, tetapi juga perhatian yang membuat mereka mampu bertahan hari ini, esok, dan seterusnya.
Dari bencana di tanah Flores, kita sadar bahwa kehidupan di dunia begitu rapuh dan kita tidak pernah bisa menebak jalan yang akan kita lalui. Mungkin hari ini kita bisa tertawa bahagia, berkumpul bersama teman-teman, berjalan-jalan sambil bercerita. Namun, dalam hitungan detik, semuanya bisa hilang tanpa berpamitan.
Flores mengajarkan kita bahwa semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan semata dan suatu saat akan diambil kembali oleh Sang Pencipta.
Kita tidak tahu kapan kematian itu datang, karena kematian tidak pernah menunggu kapan kita siap. Ia hanya menunggu waktunya tiba.
Dari tanah Flores, mari kita belajar untuk menghargai waktu yang tersisa, memaafkan setiap kesalahan, dan memanfaatkan kebersamaan yang ada.
Doaku untuk para korban, semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik bagi mereka yang telah berpulang dan menaburkan semangat yang tak pernah padam bagi keluarga yang ditinggalkan.
I LOVE NTT. (*)
*) Penulis: Sahabati Sofia, PMII Rayon Rona Gallusia.
