Relasi Cinta Setara sebagai Bagian dari Pemberdayaan Perempuan

ESAI, PMIIUNISMA – Perempuan berdaya sering kali dipahami sebagai perempuan yang mandiri, berpendidikan, mampu mengambil keputusan, dan memiliki kendali atas kehidupannya sendiri. Namun, pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada ruang pendidikan, pekerjaan, ekonomi, maupun partisipasi politik. Ia juga berkaitan dengan bagaimana perempuan memahami dirinya, menentukan batas, dan membangun relasi tanpa kehilangan otonomi atas pilihan-pilihan hidupnya.

Dalam relasi romantis, perempuan berdaya bukan berarti perempuan yang tidak membutuhkan cinta atau kehadiran orang lain. Sebaliknya, perempuan tetap memiliki hak untuk dicintai, diperhatikan, dihargai, dan diperlakukan secara setara. Keinginan tersebut bukan bentuk kelemahan, melainkan bagian dari kebutuhan manusia untuk membangun hubungan yang bermakna.

Persoalannya bukan terletak pada apakah perempuan boleh memiliki standar dalam hubungan, melainkan bagaimana standar tersebut dibangun dan diwujudkan. Bagiku, cinta semestinya tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi juga hadir melalui upaya yang nyata. Inisiatif, perhatian, acts of service, romantisme, dan kesungguhan merupakan beberapa bentuk yang dapat menunjukkan kepedulian seseorang terhadap pasangannya.

Keinginan untuk menerima cinta yang penuh upaya tentu perlu berjalan beriringan dengan kesediaan untuk memberikan hal serupa. Relasi yang sehat bukan ruang untuk menguji siapa yang paling banyak berkorban, siapa yang paling sering mengalah, atau siapa yang paling besar menunjukkan perasaan. Relasi semestinya menjadi ruang bagi dua individu untuk saling mengusahakan, tanpa menjadikan cinta sebagai alat untuk mengukur atau mengendalikan satu sama lain.

Hal serupa berlaku dalam memahami makna prioritas. Memprioritaskan pasangan tidak selalu berarti mengesampingkan seluruh kepentingan pribadi, meninggalkan tanggung jawab, atau menjadikan pasangan sebagai pusat dari setiap keputusan. Prioritas dapat diwujudkan melalui kesediaan untuk meluangkan waktu, memberikan kabar di tengah kesibukan, dan menunjukkan kepedulian secara konsisten. Artinya, seseorang tetap dapat menjalankan tanggung jawabnya sekaligus memberikan ruang bagi hubungan yang sedang dibangun.

Dalam konteks ini, komunikasi menjadi fondasi yang tidak dapat diabaikan. Komunikasi yang sehat bukan tentang kewajiban untuk terus-menerus berkirim pesan, melakukan panggilan telepon selama berjam-jam, atau menuntut respons seketika. Lebih dari itu, komunikasi merupakan keberanian untuk menyampaikan perasaan, mengungkapkan kebutuhan, menjelaskan batas, dan membicarakan arah hubungan secara terbuka. Dengan demikian, komunikasi bukan sekadar sarana mempertahankan hubungan, melainkan jalan untuk memahami apakah kedua individu memiliki kehendak dan tujuan yang dapat dipertemukan.

Relasi yang sehat juga seharusnya memberikan ruang bagi pertumbuhan masing-masing individu. Pasangan tidak semestinya diposisikan sebagai pesaing yang harus dikalahkan, terutama dalam hal pendidikan, karier, organisasi, maupun pencapaian pribadi. Keberhasilan salah satu pihak tidak seharusnya menjadi ancaman bagi pihak lainnya. Sebaliknya, pencapaian tersebut dapat menjadi ruang untuk saling mendukung dan merayakan perkembangan bersama.

Perspektif ini penting karena relasi romantis tidak berlangsung dalam ruang hampa. Perempuan masih berhadapan dengan berbagai konstruksi sosial yang dapat membentuk ekspektasi mengenai bagaimana seharusnya mereka bersikap dalam hubungan. Tidak jarang, perempuan diharapkan lebih memahami, lebih banyak mengalah, menjaga perasaan pasangan, atau mempertahankan hubungan sekalipun kebutuhan dan batas dirinya tidak terpenuhi. Konstruksi semacam ini perlu dikritisi ketika menempatkan tanggung jawab menjaga hubungan secara tidak seimbang pada salah satu pihak.

Namun, kritik terhadap ketimpangan tersebut bukan berarti menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai pihak yang saling berlawanan. Persoalan mendasarnya adalah bagaimana membangun relasi yang setara, dengan tanggung jawab, penghargaan, dan kesempatan bertumbuh yang tidak ditentukan oleh stereotip gender. Relasi yang setara memungkinkan kedua pihak untuk menyampaikan kebutuhan, menetapkan batas, serta mengevaluasi hubungan tanpa harus kehilangan martabatnya.

Memilih untuk sendiri bukan berarti gagal dalam membangun hubungan. Begitu pula mengakhiri relasi bukan selalu berarti tidak mampu mempertahankan komitmen. Dalam situasi tertentu, keputusan tersebut justru menunjukkan kesadaran bahwa keberlangsungan sebuah hubungan tidak dapat dibebankan kepada satu orang saja. Hubungan membutuhkan kehendak bersama, komunikasi yang jujur, serta kesediaan untuk mengambil tanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pilihan.

Pada akhirnya, mencintai diri sendiri bukan berarti menempatkan kepentingan pribadi di atas segala hal. Mencintai diri sendiri berarti mengenali nilai diri, memahami kebutuhan, menghormati batas, dan berani mengambil keputusan tanpa mengabaikan hak orang lain. Hal ini juga berarti menyadari bahwa perasaan terhadap seseorang tidak selalu harus berujung pada keputusan untuk terus bersama.

Bagi perempuan berdaya, keberanian untuk mencintai perlu berjalan beriringan dengan keberanian untuk memilih. Kita dapat memberikan cinta dengan sungguh-sungguh tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis terhadap relasi yang sedang dijalani. Kita dapat memahami orang lain tanpa mengabaikan diri sendiri. Kita juga dapat menerima perbedaan tanpa harus menormalisasi ketimpangan.

Sebab, pemberdayaan perempuan tidak hanya diukur dari sejauh mana perempuan mampu berdiri sendiri, tetapi juga dari sejauh mana ia memiliki kebebasan dan kesadaran untuk menentukan kehidupan serta relasi yang ingin dibangunnya. Perempuan tidak harus berhenti mencintai untuk menjadi berdaya. Ia hanya perlu memastikan bahwa dalam mencintai, dirinya tetap memiliki ruang untuk tumbuh, bersuara, dan memilih. (*)

*) Penulis: Sahabati Risma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *