PMIIUNISMA – Di rumah, aku sering merasa dituntut jadi superhuman yang tidak boleh lelah. Bangun pagi, mencuci baju, memasak, sampai membersihkan piring semuanya harus aku dan Mama yang mengerjakan. Tuntutannya selalu sama, “Anak cewek itu harus bisa semua hal.”
Sementara itu, dari lingkungan terdekatku seperti Papa, kakak, dan adik laki-lakiku dibiarkan santai di kamar, bangun siang, main game, dan lepas tangan dari urusan rumah. Yang bikin makin nyesek, ketimpangan ini malah dianggap wajar. Pertanyaanku cuma satu: sampai kapan hal ini terus diwajarkan?
Ketika Budaya Patriarki Memicu Ketakutan Masa Depan
Ternyata ini bukan cuma keresahan pribadiku. Banyak mahasiswa dan perempuan muda di luar sana yang memikul beban serupa. Budaya patriarki yang merampas ruang gerak kita sejak dari rumah ini dampaknya panjang, bahkan sampai mempengaruhi keputusan besar dalam hidup perempuan.
Fenomena maraknya perempuan yang menunda atau takut menikah hari ini bukanlah tanpa alasan. Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya tren penurunan angka pernikahan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Riset psikologis juga mencatat beberapa alasan utama di balik kecemasan tersebut.
Kehilangan cita-cita dan karier menjadi salah satu kekhawatiran dengan persentase 21,49%. Ada kekhawatiran besar bahwa pernikahan akan membatasi pendidikan dan ruang pengembangan diri. Ketika di rumah sendiri perempuan sudah dibebani seluruh urusan domestik, muncul ketakutan wajar bahwa pernikahan hanya akan memperpanjang rantai beban tersebut.
Selain itu, sebanyak 21,75% merasa takut salah pilih pasangan. Kecemasan pada usia dewasa awal muncul akibat bayang-bayang KDRT atau sifat toksik pasangan yang masih memelihara pola pikir patriarkal.
Masalah finansial juga menjadi bagian dari kekhawatiran tersebut. Ada kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi, beban finansial keluarga, hingga risiko ketimpangan ekonomi setelah menikah.
Pekerjaan Rumah Itu Life Skill, Bukan Beban Gender
Sudah saatnya kita bersuara tegas untuk memutus rantai ini. Hentikan beban ganda atau double burden. Perempuan juga punya mimpi, kuliah, dan organisasi yang harus dijalani. Kami bukan penanggung beban tunggal urusan rumah tangga.
Hentikan pula manja gender. Laki-laki juga wajib mandiri. Masak, mencuci, dan bersih-bersih adalah life skill dasar manusia, bukan tugas berdasarkan jenis kelamin.
Dari Rumah Hingga Ruang Publik
Ketimpangan di ranah domestik ini akhirnya terbawa sampai ke kampus dan organisasi. Perempuan sering kali secara refleks cuma ditempatkan di divisi konsumsi atau kesekretariatan, seolah peran kita memang sebatas urusan “pelayanan”.
Padahal, pola pikir, keberanian, dan jiwa kepemimpinan perempuan tidak pernah berada di bawah laki-laki. Kami punya hak yang sama untuk memimpin dan mengambil keputusan strategis.
Suara Kami: Menuntut Kesetaraan!
Kami tidak membenci laki-laki. Kami hanya menuntut hak dasar sebagai manusia. Kami memiliki hak untuk didengar, yaitu memiliki ruang aman untuk bersuara tanpa dicap “baperan”. Kami juga menuntut peran adil melalui pembagian tugas yang setara di rumah maupun di organisasi. Selain itu, kami berhak mendapatkan dukungan penuh untuk mengejar mimpi tanpa dibatasi dinding dapur atau ketakutan akan masa depan.
Oleh karena itu, kesetaraan gender tidak akan pernah tercipta di luar sana kalau di dalam rumah sendiri anak perempuan masih didiskriminasi.
Untuk kamu yang sedang memikul beban dan kecemasan ini: suaramu valid, dan kamu berhak atas kesetaraan serta masa depan yang kamu pilih sendiri! (*)
*) Penulis: Renata Syakilla Rohmatus Sya’diah, Kader KOPRI Unisma Rayon Al-Fanani.




