OPINI, PMIIUNISMA – Di tengah berbagai janji besar tentang Indonesia maju, kesejahteraan rakyat, dan masa depan yang lebih baik, masyarakat hari ini justru dihadapkan pada pertanyaan sederhana yang semakin sulit dijawab, sebenarnya negara ini sedang diarahkan ke mana?
Rakyat diminta percaya pada optimisme pembangunan, tetapi pada saat yang sama tekanan ekonomi semakin terasa. Nilai tukar rupiah melemah, harga kebutuhan pokok terus meningkat, berbagai kebijakan lahir tanpa benar-benar memberikan rasa aman bagi masyarakat kecil. Dalam situasi seperti ini, negara seharusnya hadir sebagai solusi, bukan justru menambah keresahan melalui kebijakan yang semakin jauh dari realitas rakyat.
Di tengah kondisi seperti ini, mahasiswa kembali turun ke jalan. Dan perlu dipahami, jangan pernah Pemerintah menganggap bahwa turunnya mahasiswa hari ini hanyalah sebuah bentuk romantisme sejarah.
Sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa setiap gelombang perlawanan mahasiswa selalu lahir dari kegelisahan sosial yang nyata. Gerakan mahasiswa bukan hadir karena keinginan menciptakan kekacauan, melainkan sebagai respons ketika negara mulai kehilangan sensitivitas terhadap kondisi rakyatnya sendiri. Karena pada dasarnya, kuantitas mahasiswa yang turun ke jalan sering kali menjadi cerminan dari kualitas rezim yang sedang berkuasa.
Bukan hal yang mustahil jika keadaan terus bergerak ke arah seperti ini, suara-suara mengenai reformasi jilid dua akan semakin nyaring terdengar. Kita memang belum berada pada situasi serupa dengan keadaan Indonesia 1998. Namun melihat berbagai dinamika pemerintahan hari ini, patut kita pertanyakan, apakah kita sedang belajar dari sejarah, atau justru perlahan berjalan ke arah yang sama?
Dan lagi pertanyaanya, Pak Presiden, ini arahnya ke mana?
Karena jangan sampai bangsa ini kembali belajar dengan cara yang sama, menunggu keadaan memburuk, baru kemudian menyadari bahwa sejak awal arah perjalanan negara sudah sedang dipertanyakan. (*)
*) Penulis: Sahabati Risma Nurijah




